Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Assalamu'alaikum... Puji syukur ke hadirat Allah SWT. karena berkat rahmat, hidayah serta ma'unah-Nya kita semua masih bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lancar, Alhamdulillah...

Manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya diciptakan oleh Allah SWT untuk bisa bertahan hidup serta beribadah kepada Tuhan mereka. Namun terkadang kita lupa bahwa kekurangan dan kelebihan itulah sebagai modal dasar penguji kadar keimanan kita. Manusia yang diberkahi fisik lebih cantik atau tampan, lebih sempurna dan kekar badannya, lebih kaya dan bergelimang harta, lebih pandai dan mampu menggunakan akal pikirannya dengan baik serta kelebihan-kelebihan lainnya seringkali menjadikan diri mereka sombong dan takabur terhadap apa yang telah dianugerahkan kepadanya, na'udzubillah.. Kita lupa bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan kepada kita dan mengabaikan segala perintah dan larangan Allah, padahal tanpa disadari, itu adalah salah satu jalan bahagia menuju kahancuran. (Sekali lagi, na'udzubillah..)

Namun, tidak hanya yang mempunyai kelebihan saja yang bisa takabur dan kufur nikmat. Manusia yang dianugerahi serba kekurangan dalam hidupnya juga tidak kalah sombongnya. Kita hanya bisa mengeluh dan terus-terusan mengutuk Allah SWT tanpa ada usaha sedikitpun untuk mengubah keadaaan hidup. Bahkan kita malah manyalahkan orang lain dalam keterpurukan ekonomi. Seharusnya kita menjadi diri sendiri yang kuat dan terus berusaha meskipun untuk mendapatkan apa yang kita inginkan tidaklah mudah. Allah SWT berfirman dalam surat Al Insan [76] ayat (30), bahwa:

"dalam hidup ini semua hal telah ditentukan oleh Allah SWT. Jika Allah sudah berkehendak, maka terjadilah"

Namun bukan serta merta manusia tinggal meminta dan akan segera menerima apa yang diinginkannya tanpa ada ikhtiar. Namun ayat tadi tidak berlaku bagi keadaan yang menimpa manusia dengan anugerah wajah tidak secantik atau setampan orang lain atau sedang-sedang saja. Mereka mempunyai organ tubuh lengkap, haya saja merasa masih belum puas dengan apa yang dimilikinya. Mereka menginginkan wajah yang lebih sempuran sempurna dengan cara-cara yang kurang terpuji bahkan membahayakan dirinya sendiri. Hingga akhirnya karena saking terlalu banyaknya bahan kimia berbahaya bersarang di tubuhnya, mereka pun mendapati dirinya dengan keadaan yang tidak lebih baik dari sebelumnya.

"Mereka bertindak dengan sesuka hatinya tanpa memperhatikan akibat yang ditimbulkan. Dalam hal ini, manusialah yang lebih dominan berperan atas apa yang terjadi dalam dirinya"..Ar Raad [13] ayat (11). 

Seharusnya kita bisa mengambil hikmah dari hal-hal tersebut bahwa manusia hendaknya selalu bersyukur dan janganlah terlalu berlebihan melihat apa yang ada di atas kita. Lihatlah sewajarnya dan ambillah pelajaran serta jadikan motivasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lihatlah ke bawah kita karena kita akan selalu bersyukur kita masih beruntung dari mereka. Semoga ini bisa menjadi pegangan kita untuk bertahan hidup dan beribadah penuh dengan rasa syukur kepada Allah SWT dan selalu bisa bersyukur, Amin...

Selalu ucapkan Alhamdulillah....!
»»  Baca Selengkapnya
Assalamualaikum..
Alhamdulillah saya bersyukur pada kesempatan ini masih bisa posting.
Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya..Amin.
Pada tulisan saya ini, saya akan membahas tentang IMAN.
Ternyata Iman bisa naik turun juga.. Simak hadits berikut ini:

”Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan kehidupan akhirat, kecuali seperti saat salah seorang di antara kamu mencelupkan jari telunjuknya di samudra lautan, lalu lihatlah yang tersisa di jari telunjuknya itu (itulah dunia).” (HR Muslim,
Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Keimanan senantiasa naik turun. Saat iman naik, saat itu kita merasakan betapa lezatnya iman itu. Hidup terasa tenang, dada lapang, mata terasa sejuk, pikiran jernih, kata-kata manis, penuh tawakal, ibadah terasaringan dan nikmat, kadang air mata ikut menetes untuk ikut merasakan kenikmatannya.

Namun, iman bisa turun kalau penjagaannya tidak optimal, karena gerusan kemaksiatan  setiap hari pasti dijumpai karena kita tidak hidup sendiri. Tarik-menarik antara keimanan dan kemaksiatan terus akan terjadi.

Kita juga akan merasakan bagaimana kondisi jiwa ketika iman dalam kondisi turun  (futur). Hidup penuh dengan ketegangan, dada terasa sempit, penuh dengki, mata liar  ke sana-kemari, pikiran kotor, kata-kata tidak terkontrol, ibadah terasa berat, penuh kekhawatiran terhadap dunia, takut kehilangan rezeki, dan sifat-sifat buruk lainnya. 
 Semakin banyak sifat dan perbuatan buruk dilakukan semakin deras luncuran iman itu menuju titik terendah. Sebaliknya semakin tinggi kuantitas dan kualitas ketaatan semakin cepat iman itu menanjak ke puncak. Sebagaimana dijelaskan para ulama, iman naik karena ketaatan dan iman turun karena kemaksiatan. Nah pertanyaannya, bagaimana membangunkan iman ketika sedang terbujur lemah?

Ada tiga hal yang bisa kita lakukan:
  1. Pakar motivasi mengatakan tips mendobrak kemalasan dan ketakutan dengan cara melakukan sebaliknya. Jika dia malas shalat maka segera bangun untuk shalat, maka rasa malas itu akan berangsur-angsur hilang.
  2. Menyadarkan diri kita bahwa kita diciptakan untuk akhirat, bukan dunia. Maka, segala aktivitas dunia jangan sampai mengalahkan tujuan akhirat kita.
  3. Menyadarkan diri kita kehidupan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kehidupan akhirat. Hadits di atas setidaknya menggambarkan tentang perbedaan keduanya yaitu antara setetes air kehidupan dunia dan luasnya samudera kehidupan akhirat. Sungguh sebuah perumpamaan yang sangat jelas dipandang mata.
Maka, merugilah orang-orang yang hanya mengejar dunia dan melupakan akhirat.
Demikian postingan saya kali ini. Tulisan ini saya ambil dari sebuah buku yang barusan saya baca..Semoga bermanfaat!
»»  Baca Selengkapnya